Sabtu, 28 Januari 2012

belajar dengan kemandirian

 oleh Usbat Hidayat

BELAJAR DENGAN KEMANDIRIAN

       Belajar bukan berarti tidak dapat bekerja dan menghasilkan uang, kebanyakan masyarakat memandang pelajar sebagai orang yang selalu menghabiskan uang. Padahal tidak sedikit mahasiswa yang belajar sambil bekerja atau bekerja sambil belajar. Apapun istilahnya yang jelas banyak mahasiswa yang punya kegiatan sampingan selain kuliah entah itu halal atau haram. Seperti M. Sukron salah satu mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, sejak lulus dari SMA diriya telah bekerja di salah satu Instasi yang bergerak di bidang Penyelenggara Haji dan Umroh. Pada awalnya Sukron tidak ingin kuliah karena takut mengganggu pekerjaannya, tapi pihak keluarga terutama dari orang tuanya selalu memaksa Sukron untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya dua tahun setelah lulus dari SMA, Sukron mendaftarkan dirinya di UIN dengan pilihan pertama Tehnik Informatika (T.I) Fakultas Sain & Tekhnologi, pilihan tersebut untuk menunjang pekerjaannya yang selalu beroperasi di bagian komputer sedangkan pilihan kedua adalah Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan pilihan ketiga Tafsir,setelah tes masuk ternyata sukron lolos dengan pilihan keduanya yakni KPI,dengan berat hati Sukron tetap mengambil KPI. toh KPI juga dapat memberikan kontribusi bagi pekerjaannya ujar sukron dengan sedikit menahan rasa kecewanya. Selain bekerja dan kuliah sukron juga mengikuti Unit Kegiaatan Mahasiswa bagian Olahraga, kegemaranya dalam dunia sepak bola membuat Sukron meluangkan waktu sendiri untuk menyalurkan bakat dan hobinya. Selanjutnya pria berkelahiran Bengkulu ini sedikit mengeluhkan tentang tata usaha dan keamanan pada Fakultas, fasilitas yang seharusnya di terima dan digunakan Mahasiswa malah dialih fungsikan sebagai kepentingan pribadi, Sukron mengaku “selama dirinya menjadi mahasiswa KPI belum pernah merasakan haknya sebagai Mahasiswa terpenuhi”. Tapi dirinya tidak pernah mempersoalkan hal itu karena takut konsentrasi belajarnya akan terganggu. Meskipun jauh dari tanah kelahirannya, Sukron tetap ingat kewajiban yang menjadikan dirinya sampai di Yogyakarta. Dengan restu orang tua Sukron pada tahun 2000 berangkat ke Jogja dan melanjutkan SMA di Pondok Pesantren Asyifa’yang berlokasikan di kabupaten Bantul. Dari PP Asyifa tersebut kemudian Sukron berinteraksi dengan lingkungan dan akhirnya dirinya diajak oleh salah seorang temen sewaktu di PP untuk magang kerja di penyelenggara haji dan umroh. Awalnya hanya ingin mencari pengalaman karena waktu itu Sukron masih kelas dua, tapi lama-kelamaan sangatlah tertarik dengan pekerjaan tersebut, dan Sukronpun memutuskan untuk keluar dari PP. Asyifa’supaya tidak sering melanggar dengan aturan-aturan Pondok. Tapi sukron tetap mengikuti kegiatan pondok seperti Madrasah Diniah layaknya seorang santri atau biasa orang menyebutnya dengan santri kalong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar